Para Puan di Karang Paci

Pada periode 2024–2029, keterwakilan perempuan di DPRD Kaltim diisi oleh 8 orang srikandi dari total 55 kursi yang tersedia. Menariknya, 2 di antara mereka berhasil menduduki posisi krusial. Yakni sebagai unsur pimpinan.

MEREKA adalah Ananda Emira Moeis (PDI-Perjuangan) sebagai Wakil Ketua DPRD Kaltim, dan Yenni Eviliana (PKB) sebagai Wakil Ketua DPRD Kaltim.

Lalu anggota DPRD Kaltim seperti Damayanti (PKB), Sulasih (PKB), Syahariah Mas’ud (Golkar), Syarifatul Syadiah (Golkar), Shemmy Permata Sari (Golkar), dan Yonavia (PDI-Perjuangan).

Sejarah keterwakilan perempuan di DPRD Kaltim) merupakan potret perjuangan yang dinamis. Dari masa ke masa, keterlibatan perempuan di parlemen Benua Etam mengalami pasang surut yang signifikan. Mulai dari dobrakan tokoh pelopor di masa pasca-kemerdekaan hingga dinamika kuota 30 persen di era modern.

(INFOGRAFIS: AI)

Secara kronologis, perjalanan sejarah keterwakilan perempuan di kursi legislatif Karang Paci bisa ditilik dari pasca Pemilu 1955. Sosok itu adalah Djumantan Hasyim.

Jauh sebelum isu kuota gender digaungkan, sejarah mencatat Djumantan Hasyim sebagai perempuan pertama yang menduduki kursi DPRD Kaltim. Ia berasal dari Partai Masyumi –pemenang Pemilu 1955 di Kaltim.

Djumantan bukan sekadar pelengkap ornamen politik. Ia dikenal sangat vokal dan terlibat aktif dalam mendorong sidang-sidang penting. Termasuk dinamika politik daerah yang kritis pada masa transisi kepemimpinan gubernur waktu itu.

Pasca pemberlakuan UU No. 10 Tahun 2008 yang mengamanatkan kuota minimal 30 PERSEN keterwakilan perempuan dalam daftar caleg, grafik keterpilihan perempuan di DPRD Kaltim menunjukkan tren bergelombang –fluktuatif (selengkapnya simak infografis).

Meski secara kuantitas jumlah anggota perempuan menurun menjadi 8 orang pada periode 2024–2029, periode ini mencatatkan capaian historis tertinggi dari sisi kualitas taktis/jabatan. Di mana untuk pertama kalinya dalam sejarah DPRD Kaltim, dua posisi Wakil Ketua DPRD sekaligus dijabat oleh perempuan, yakni Ananda Emira Moeis (PDI-P) dan Yenni Eviliana (PKB).

Hingga saat ini, angka riil keterpilihan perempuan di parlemen Kaltim memang belum pernah menyentuh target ideal 30 PERSEN kursi. Ada beberapa faktor yang sering dicatat oleh para akademisi dan aktivis lokal Kaltim.

Di antaranya, dominasi kultur patriarki yang kuat di beberapa wilayah dapil. Lalu, akses permodalan –logistik politik– yang menantang bagi caleg perempuan. Terakhir, kaderisasi internal partai politik yang masih perlu dioptimalkan agar menempatkan perempuan di nomor urut strategis. (*)

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button